=~My World~= AiddiCataX homepaGe

Let me tell you my story...

Name:

Aku adalah aku, karena aku bukan kamu gitu loh, hehehe. Aku tuh kayak anak kecil, dan emang paling kecil di kelas, which is baru 14 tahun kelas 1 SMA ini! Aku seneng cowok cakep (siapa sih yang ga suka?) dan sesuatu yang lezat. Cowok fav gue yang tipe kayak Alex ato Leo

Sunday, January 30, 2005

Prolog

Prologue

Sssht…
Suara napas yang dihembus pelan-pelan terdengar di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar.
Suaranya pelan… berasal dari seorang laki-laki yang tergolek di tempat tidur berseprai putih bersih. Tubuhnya yang kurus dikelilingi selang-selang. Wajahnya tidak terlalu keriput, tapi menunjukkan umur yang tidak lagi muda.
Koma.
Koma, yang mendekati titik.
Titik akhir.
Tapi wajahnya tersenyum…

Mari masuk ke pikirannya.

Ke tempat di bawah alam sadarnya.

Dimana pikiran-pikirannya berputar… melambai, membuka kembali hal-hal yang mungkin banyak terlupakan.
Dia kembali ke sebuah masa, yang menghangatkan hatinya.
Piip, treeeet, piiiiiiiiiiiiiip…

Tret…


===

















Anak kecil itu berlari kencang. Wajah bandelnya tertawa girang selama dia lari. Dia berhenti sebentar dan menepuk-nepuk tangannya. “Hoi! Hoi!”
“Eki, Eki! Aduh, itu kembaliin dompet ibu sayaaang! Iya, nanti ibu beliin mainannya, tapi jangan diambil dong!”
Anak itu nyengir. “Wooo! Boleh Oka, boleh? Boleh? Beliin yang banyak buat Kazi ma Eki!! Aci jangan dikacih!!!”
“Iya, sini dong.”
Leo, anak itu, menghampiri ibunya sambil cengar-cengir polos. Tangannya menyembunyikan dompet itu di punggungnya. Ibunya tersenyum sambil menyilangkan tangannya. Lalu di luar dugaan anak laki-laki itu, ibunya malah…
“Okaaa, jangan dijewer gini dong! Atiiit!”
“Ya udah, oka pukul aja pantatnya yaa?”
“Hahahaha….”



Ilusi tentang masa kecilnya bergulir. Berpendar-pendar tidak jelas. Dia merasa seperti sedang berada di sebuah jalan yang sangat panjang dan sepi. Setelah lama berjalan tidak tentu, dia merasa kelelahan. Lalu terjatuh.
Laki-laki itu memejamkan matanya dan memandang langit. Dan entah kenapa, memorinya berputar. Langit itu bagai layar ke masa lalu. Perjalanan hidupnya bermain di atas sana. Bagai sebuah film yang tanpa sadar terputar. Membuka dokumen-dokumen otak yang sudah usang. Membangkitkan rasa rindu pada orang-orang yang pernah mengisi hidup.
Laki-laki itu merasakan kehangatan yang luar biasa. Dia memendam kerinduan yang amat dalam pada ibunya. Pada okasan yang sangat dicintainya. Betapa lamanya waktu untuk melihat kembali wajah yang selalu dia dambakan itu.
Hanya untuk melihatnya.
Laki-laki itu dalam ilusinya tersenyum lebar. Dia membiarkan semuanya bermain. Bermain lagi dengan sesuatu yang sudah lama terlupakan. Dia biarkan dia melihat kembali biasan-biasan kecil film hidupnya itu. Yang anehnya, hal-hal yang pertama tidak diketahuinya, mendadak muncul di sana, menjelaskan semuanya. Anehnya lagi, dia seakan sedang menonton sebuah film. Dimana semua itu bukan dijelaskan dari sudut pandangnya. Dimana itu terlihat seperti sang Waktu yang memutar kembali banyak hal. Ajaib, tapi dia menerima keajaiban itu dengan senyum—seakan dia mengerti kenapa.
Lalu dia berbaring dengan santai di tengah jalan yang sepi itu. Memutuskan membiarkan dirinya…
Teringat kembali.
Kenangan yang semakin panjang terbentang.
Diputar.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home