=~My World~= AiddiCataX homepaGe

Let me tell you my story...

Name:

Aku adalah aku, karena aku bukan kamu gitu loh, hehehe. Aku tuh kayak anak kecil, dan emang paling kecil di kelas, which is baru 14 tahun kelas 1 SMA ini! Aku seneng cowok cakep (siapa sih yang ga suka?) dan sesuatu yang lezat. Cowok fav gue yang tipe kayak Alex ato Leo

Sunday, January 30, 2005

CHAPTER 1

(ACTION!)

Pada zaman dahulu….

Pada suatu hari, di tahun titiktitik, tersebutlah sebuah kota yang disebut Bandung. Konon nih (cieeh, konon), kota ini disebut kota kembang. Kembangnya yaa banyak.
Yang paling bagus itu anggrek. Anggreknya itu, bodinya pada aduhai, pada cute, pada putih-putih… dan banyak yang jadi model!
Konon lagi, yang paling diingat orang tentang kota ini adalah “The ship which is Nangkub” legend. Yaaa, orang-orang pribumi nyebut legenda ini, legenda Tangkuban Perahu sih. Tapi kita tidak bicara tentang perahu, tapi tangkuban. Oh, maksudnya Bandung.
Kalau anda dari jalan Setiabudi, belok kiri, lalu ke kanan sedikit, luruuus terus, dan anda menemukan sekelompok tukang becak, ngopilah sebentar, lalu tanyakanlah pada mereka atau tukang tahu gejrot di sebelahnya tentang sesuatu yang disebut Wahutri. Ini bukan merek baskom, merek rokok, atau jenis kutil. Ini sekolah.
Di dekat sana, ada sebuah bangunan yang jadi kebanggaan orang Bandung.
Yah, inilah Wahutri. Di atas gerbangnya yang sangat menyilaukan berwarna cokelat muda, kepastel-pastelan, yang mana jalan masuknya baru selesai dipavingblock, tertulislah, “SMU 103-Rasa kami: beda!!” (yang sama anak-anak iseng Wahutri, oke, termasuk tokoh utama kita disini, ditulisi “k” disamping kata “beda”).
Secara etimologis, 103 bisa dibaca sebagai one hundred three atau wanhandredtri. Tapi karena banyak orang (terutama para pedagang) yang merasa itu kurang praktis dan harus diperbarui oleh para ilmuwan, maka diubahlah dengan semena-mena menjadi WAHUTRI. Kata ini turun dari generasi ke generasi. Maka itulah nama sekolah favorit itu kini.
Saat itu sudah siang di Bandung. Karena shift bulan sedang digantikan matahari pada jam segini, maka suhu menjadi panas. Semua manusia Bandung menyerah pada cuaca ini demi kepentingan masyarakat banyak tentang keringnya jemuran. Jadi begitulah Bandung hari ini. Tetap damai dan lumayan panas.
(Break iklan)

Untuk para penggemar dasi yang budiman dan pakdiman,
Telah dibuka sebuah gallery dasi!
Silakan anda pilih saja sendiri, asal dibayar, kami tidak akan memarahi
Tersedia dasi panjang, pendek, lurus, bergelombang, datar, dan yang sedang didiskon adalah dasi kupu-kupu, siang makan nasi kalau malam minum susu!!
Kami tawarkan dengan harga terjungkal, silakan anda pilih, yang masih berbentuk ulat atau kepompong terserah anda
Tawaran terbatas!!

(Jeng genjreng-genjreng---AiddicataaaaaXX!)
Mengingat betapa cakepnya tokoh utama kita, iklan terpaksa dipasang. Maaf atas ketidaknyamanan anda.
Tersebutlah, sebuah kantin di Wahutri, yang mana digawangi oleh banyak pedagang kawakan yang sangat profesional di bidangnya. Mereka mempunyai organisasi bawah tanah khusus yang dinamai ITDAWAH (Ikatan Tukang Dagang Wahutri). Mempunyai kaos khusus seperti ini:
Jejen (nama belakang)
07 (nomor punggung)
ITDAWAH VIP member

Nah, di situlah dia, cowok cakep yang menjadi tokoh utama kita. Di sebuah bangku yang sudah menjadi langganannya dan gengnya. Oh… bukan, nama geng itu bukan F4 dan tidak berbau Meteor Garden. Tidak terlihat tanda-tanda adanya Tao Ming Tse. Sekolah ini sekolah negeri dan bukan milik geng itu.
Mereka emang kelihatan menonjol di sana. Pertama karena personilnya, tokoh utama kita yang jongkok-jongkokan cakepnya. Yang kedua karena mereka ngobrol lumayan rame sambil sekali-sekali ketawa-ketawa. Banyak anak yang terang-terangan memandangi mereka, cewek maupun cowok. Sebagian liatin face-face mereka, sebagian dengerin obrolan mereka yang paling rame disana.
“Hahahahahaha, jadi lo disuruh ke depan sambil naikin kaki sama si Pak Hikmat?” ucap seorang cowok putih-cepak-sixpac sambil ketawa-ketawa. Wajahnya lumayan ganteng, walau rada kelihatan beraroma centeng. Namanya Adi. Cowok yang dikenal luas sebagai leader geng ini. Adi duduk bersama empat temennya (tuuuh kan, paling juga jadi F5!!).
Seorang manusia berjenis cowok berumur 17 tahun berparas diambang rata-rata berkulit cokelat menyahut, “Iya… hahahahaha… Tapi temen-temen pada ketawa-ketawa juga, soalnya… soalnya… hahahahahahaha… gara-gara liat si Leo, hahahahahaha…”
Nah, ini Luthfi. Walau nama sebenarnya bukan itu. Tapi itulah panggilan dia.
“Ah, elu, jadi nyalahin gua… Itu sih bibir lo aja yang gatel!!” Seorang cowok sambil nyengir kecil ngedorong Luthfi. Pemirsa, itulah yang tercakep di geng ini. Mungkin juga di Wahutri. Saat dia nyengir tadi aja, beberapa sendok berjatuhan. Cowok itu bernama panjang Leostrada Andhika Servorova Ekihara Miyazao dengan nickname badgenya Leostrada A.S.E.M. Agak keputih-putihan, berjanggut lebat, memakai singlet putih, eh sori, itu tukang es di belakangnya. Pokoknya, dia campuran indo-Jepang. Rambutnya cokelat spikey, matanya agak sipit, kulitnya putih, dan badannya lumayan cebol kalau dibandingin pohon palem. Berbeda halnya bila dibandingkan dengan manusia kebanyakan. Dia lumayan jangkung, 178 cm. Bener-bener girls-will-lose-their-breath banget.
“Emang lo ngelakuin apa sampe dihukum sama Pak Hikmat heh?” ucap seorang cowok lain personil geng itu.
Namanya David. Tidak terlalu cakep, tapi diberi anugerah untuk terlahir dengan wajah bodor. Yang mana bisa bikin orang ketawa saat liat dia—walaupun dia ga ngomong apa-apa. Dia utusan kampung Dedenghilir (sebelah mananya Indonesia ya?) di Wahutri ini.
Nah.. terakhir… Seorang cowok bertampang mirip senior Tezuka di Prince of Tennis (browsing di net ajalah ga tau mah), hanya tersenyum kecil sambil makan baksonya. Dia kedualah cakepnya setelah Leo di geng ini. Namanya Kevin. Lumayan tinggi dan bermata bebek (elang juga boleh, tapi terlalu tajam). Dan dia SANGAT POLOS.
“Nggak, gini… Pas si Pak Hikmat bilang: ‘Anak-anak, seperti yang kita tahu, di antara para pelukis beraliran romantisme tadi, ada yang paling terkenal dan membuat sebuah lukisan terkenal bertajuk Monalisa… Siapa yang tahu tunjuk tangan hayooo?’ Gua sebenernya lupa. Vinci-vinci gitu. Terus gua liat si Leo en tiba-tiba inget nama itu. Leonardo da Vinci,” Luthfi mencoba menahan senyum. Pipinya menggembung.
Lalu Luthfi melanjutkan ceritanya sambil tetap menahan tawa sekuat-sekuatnya. “Nah, gua ngacung aja biar dapet nilai. Eh, bibir gue error, gue malah bilang…” Luthfi tertawa sambil memukul meja. “hahahahaha…. Gua malah bilang, ‘Leostrada da Vinci Pak!!’ Hahahahahahaha…”
Mereka berlima ketawa-ketawa abis. Kevin aja sampe keselek bakso. Bahkan anak-anak laen juga ternyata dengerin percakapan mereka dan ikut ketawa-ketawa.
“Pak Hikmat langsung ngembangin idung ga percaya. Kelas ribut ketawa-ketawa… Dan si Leo langsung disorot sama anak-anak laen, hahahahahaha…” Luthfi ketawa lagi.
“Lagian gue dikatain Leostrada da Panci coba!!” Leo nyengir kecil sambil ninju lengan Luthfi lagi. “gua bener-bener ngerasa pengen masuk karung en diangkut ke Jalan Dago…”
Mereka ketawa lagi. Para tukang dagang mulai ikut berpartisipasi untuk ikut tertawa. Lalu mendadak David terdiam dan memandang Adi dengan mata memicing.
“Letnan Adi, kita kayaknya bakal telat nyegat Linda kalo kita tetep di sini. Mari kita bergerak ke Wapaden!!” kata David sambil memandang Adi.
“Siap Sersan David!” tukas Adi sambil ngehormat.
Para personil geng itu langsung berdiri dan meninggalkan bangku mereka. Mereka berjalan bersama sambil ketawa-ketawa kecil. Keren banget kalo diliat dari belakang, kayak Power Ranger.

^^^

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Wapaden adalah Wahutri Palace Garden. Di sana tempat anak-anak Wahutri maen, ngobrol, makan siang bareng, bahkan bisa juga menjadi tempat para pujangga untuk bertanya pada daun yang bergoyang.
Leo mulai bertanya-tanya saat sudah di sana, mengapa mereka diam di sana, siapa Linda itu sebenernya, dan mengapa daun itu hijau. Akhirnya dia bertanya pada sang Adi.
“Nongkrong Le.” Adi memandang Leo secepat ‘kilat yang sedang kebelet’. “ya nemenin boleh, ngga juga gapapa. Gua udah ada incaran kok.”
Leo memandang Adi sambil nyengir. “Gapapa, gapapa. Nongkrong itu kegiatan yang positif kok, apalagi kalo dilakukan di Wapaden, itu tempat yang strategis buat ngegap…” Leo mikir sebentar. Sulit mencari kata positif lanjutannya. Di sini kalo ga ngegap orang pacaran di DPR (Di bawah Pohon Rindang), yang lagi nyiram bunga, ato nyuri buah. “ngegap guru lewat…”
Kevin memancungkan bibirnya. “Maaf, maaf. Yang Kevin tau, Adi tadi bilangnya mau, mm… minta maaf sama Sinta?” Kevin memandang wajah Adi yang keliatannya hawa kriminalnya mulai pekat. Luthfi mengangkat bahunya.
“Linda, bukan Sinta. Lindddda.”
“Minta maaf kenapa ya?” Leo memandang Adi aneh. Ini mengejutkan, sodara-sodara.
Adi memiringkan kepalanya. “Udah deh Le, pokoknya… gua… ada masalah sama si Linda. Kemaren gua jalan sama dia bareng ke BIP. Nah, ku saya teh dipegang bahunya… Dia kayak yang risih gitu. Terus yah dia lari..”
“Sekian dan terima kasih. Wassalamualaikum Warohmatullohiwabarokatuh.” Luthfi nganggukin kepala sok sopan.
Leo kebingungan memberi tanggapan. Apa tanggapan positif yang mungkin bisa dikeluarkan lagi dalam situasi menyudutkan Adi gini? Tanggapan negatif tidak bisa dipertimbangkan. Salah ngomong dikit depan Adi artinya mempertaruhkan warga mulut. Kejadiannya akan begitu cepat. Rasanya begitu menyengat, mengharukan hati, saat tiba-tiba selayang bogem mencium lembut bibir korban.
“Ooh, bagus itu…” Dia mengembangkan hidungnya sedikit. “tapi negatif yah.”
Leo sebenernya merasa Adi bakal tandukan dan langsung berteriak “hajar bleh!” Tapi ternyata Adi cuman mengangguk-angguk kecil. “Whatever deh.”
Yang Leo tidak tahu adalah, Adi mempunyai motto yang menggetarkan hati: “Hormati gurumu sayangi teman-teman dekat, teman-teman jauh boleh dihajar. Itulah tandanya Adiansa Adysi”.
Hening sejenak. Leo, Adi, Kevin, David, dan Luthfi tenggelam dalam sumur kesepian. Namun seketika, wajah Luthfi berubah dan segera bikin pose cheerleader untuk L, I, N, D, A.
“Londok?” ujar Kevin dan Leo berbarengan.
Barulah mereka mendapatkan jawaban kuis Tebak Tangan dari mulut Adi. “Woi, Linda, kesini sebentar!”
Wajah Leo, David, dan Kevin (cuman mereka bertiga yang munggungin siluet Linda), bergerak secara slow motion. Dan terlihatlah dua orang manusia berjenis cewek, cewekus blibetieae.
Yang satu kayaknya cukup beralasan untuk dicap sebagai Linda. Memang tipe kesukaannya Adi yang notabene memang Playboy cap Kapak. Linda berambut cukup panjang, kulitnya cukup putih, cukup cantik, cukup menarik, dan cukup cukup cukup, udah.
Satunya lagi sepertinya hanya keajaiban yang bikin Adi suka sama cewek seperti itu. Kulit wajahnya agak kecokelatan (tapi rada aneh sih), kacamatanya nyaris setebal ¼ dinding gapura 17 Agustusan, rambutnya dikucir ketat banget kedua belah sisi, dan wajahnya streng abis, asli jutek, bukan singkatan jujur tapi bau ketek. Kelebihannya adalah bibirnya yang kecil dan seksi. Itulah satu-satunya organ tubuh yang normal dari cewek yang “uugh…” ini. Sekian pengamatan.
Linda memandang Adi takut-takut. Matanya terus bergerak dari atas bawah atas bawah, kiri kanan samping belakang, 1! 2! 3! Oke, maju!
“Gue mau minta maaf sama elo yang udah ga sengaja gua pegang kemaren.” Adi memandang Linda, mencoba menghilangkan citarasa dan aroma Romusanya (Roman muka sadis).
Leo nyengir. “Iya, tangannya yang salah.”
Adi memandang Leo sekejap. “Iya, iya, aku waktu itu sengaja. Pokoknya sori. Udah, itu aja.”
Linda hanya terdiam sambil menunduk. Dia hanya diam. Salahnya, Adi malah menganggap itu kesulitan Linda untuk maafin Adi. Linda padahal lagi mikir mu ngomong gimana.
“Mmh…”
“Kenapa sih? Kalo diem aja, berarti… Lo sebenernya ga marah… En seneng gua pegang gitu…?” Adi nyengir sinis. “walau gue ‘keterlaluan’?” Dia menekankan pada 11 huruf itu.
Linda memandang Adi ga percaya. Leo mendecakkan lidahnya. “Woi!”
“Di… maksud Linda…” Linda dengan takut-takut bicara pelan pada Adi. Sesekali matanya memandang Leo. Cewek jutek berkacamata mulai memandang dengan tidak sedap pada Adi.
“Apa? Mau ngasih syaraat?”
“Eh, Di, jaga mulut lo!” Leo memandang Adi sambil agak memicingkan matanya. “Jaga mulut lo! Jangan ngeluarin kata-kata gitu, dodol banget! Lo ceritanya kan lagi minta maaf!”
Adi memandang nanar pada Leo. “Lo jangan ikut-ikutan Le. Jangan sok ngegaya deh.”
David, Kevin, dan Luthfi berusaha memisahkan mereka. Untungnya berhasil, karena biasanya tanpa rantai besi, borgol, ma kandang ular sanca, kalo Adi udah marah, wuih abis deh.
“Nih, untuk cewek sebiasa lo, apa sih, yang gue mau kejar bener-bener! Jangan sok gitu deh!” Adi mengacungkan jempolnya ke bawah.
PLAK! (DURUM DUM DUM< CESSSH!)
Semua mulut saat itu menganga kecuali Misis Kacamata ¼ Gapura Super Jutek Spesial. Desahan David menceburkan suasana ke jalan yang lebih sesat, “Ohhh…”
Adi mengerjap-ngerjapkan matanya sambil memegang pipinya. Misis Kacamata ¼ Gapura Super Jutek Spesial dengan gagah berani maju tak gentar membela yang benar, menempeleng, atau bahasa kotanya menampar Adi sesuai dengan prosedur umum yang berlaku. Wajahnya tetep dingin dan menampilkan segaris senyum sinis.
“Spiza… eling…” Linda mengguncang bahu cewek yang ternyata bernama Spiza. Entah Spiza apa. Tapi si Spiza Blablabla itu menangkis tangan Linda.
“Gila kamu ngomong kayak gitu depan aku! Kamu ngelecehin temenku? Bagus banget! Dasar ga tau diri! Kamu tuh yang ‘biasa-biasa aja’! Apa gitu aja dibanggain, cowok ga tau diri!” Spiza memandang sengit ke arah Adi—yang menambah prosedur orang kaget pada umumnya, dari cuman melebarkan mulut, akhirnya ditambah “hah…?”
Adi ikut panas. “Lo yah! Ga ada urusan apa-apa ikut lagi! Lo bisa bilang gue biasa-biasa aja, tapi liat diri lo! Ngaca. Ngaca!” Lalu Adi mengibas-ngibaskan tangannya ke bawah. “Lowest level, LOWEST.”
Sulit, kompor juga mulai menyala di hati Spiza.
“Aku ga takut sama kamu! Ga takut! Dan ga merasa terhina dihina oleh cowok yang hina kayak kamu! Minta maaf ga kamu sama temenku? Minta maaf ga?? Jangan banyak ngebeo deh!”
Adi memandang Spiza dengan mukar, eh murak, puh puh puh! , MURKA. David sudah mengangkat tangannya di belakang Adi, bersiap melakukan gerakan totok pingsan yang diwariskan turun temurun di Dedenghilir. Kalo-kalo aja Adi ilang kesabaran dan mulai korslet.
Spiza memegang lengan Linda. “Udah Lin, kalo mau laporin, laporin aja. Kalo nggak, ya udah. Jangan peduliin cowok macem dia. Ayo, pergi.”
Leo, Kevin, David, dan Luthfi menggeleng-gelengkan kepalanya. Harga diri Adi sudah digeleng rata oleh cewek yang bener-bener bikin mereka menambah daftar ngangap-“hah?”-setengah pingsan ditambah rasa takjub yang melebihi ketakjuban seorang peneliti melihat monyetnya bernyanyi seriosa.
Wah, ini yang gua cari… Waw… Dia pantas gue kejar en pertaruhin. Kayaknya gua bakal sembuh kalo gua mulai bertingkah normal dan ngejar cewek ini…
Dia pantes banget. Extra-ordinary, full challenges. Udah ini kayaknya gua sembuh.


Saat itu murid-murid Wahutri udah pada pulang. Bel pulangan berdecit keras. Bagai suara ombak di lautan… (Cieeeh, ga nyambung)
Leo dan Luthfi yang emang sekelas jalan berdua sampe tempat parkir. Luthfi amat sadar, cowok yang ada di sebelahnya ini barang dagangan yang paling laku yang ada di 103. Dia amat sadar, setiap cewek yang mereka lewati menunjukkan mupeng yang sangat memprihatinkan.
Euh, Leo, lo kudu minta maaf sebesar-besarnya pake mikrofon keliling Bandung sama cowok-cowok Wahutri. Ini salah lo! Salah Lo!! Lo yang nurunin 86% pasaran cowok sini!
“Fi, si Spiza itu kelas apa ya?” ucap Leo setengah bergumam. “lo tau gak?”
Luthfi yang ternyata lagi ngelamun kaget banget pas sadar ditanya. “Hah, pizza? Pizza apaan? Traktir? Traktir?”
“Spiza, monyong..” Leo nyengir lagi.
Luthfi megangin bibirnya. “Spiza? Tau deh ya. Yang tadi ya? Lo kepikiran ya? Lu tuh yeee… Mikirin cewek yang agak cantikan dikit bisa ga sih?”
Leo berbalik dan menghadap Luthfi. “Denger, yang pasti gue tertarik sama dia. Dia bener-bener tipe gue, bener-bener ga bisa gue jelasin pake kata-kata,” ujar Leo sambil ketawa pelan. “gue ngerasa ditarik…”
Ini yang harus orang lain tahu. Bohong sih.
“Ditarik…” Luthfi mencoba dengan tekun memahami kata-kata Leo. “ditarik?”
Leo menggerakkan bibirnya ke kanan. “Dia beda sama cewek di sini. Kita kesampingkan kata cinta, dan ketengahkan kata taruhan.”
“Taruhan…” Luthfi mulai merasakan otaknya berdesir. Di tengah kepeningan dari lambungnya yang dari tadi udah memisscalled, dia merasakan esensi gawat dari diambang kewarasannya Leo. “ooh, togel ya?”
Leo tersenyum kecil, yang entah kenapa Luthfi melihatnya kayak senyum licik gitu. “Gue ga pernah maenin game kayak gini sebelumnya. Gue pengen coba taruhan apa gue bisa… nundukin dia.”
“Tolong itu otaknya diperbaiki dulu ya. Dia cukup handal menempeleng, kayaknya bisa gulat juga deh.”
Eh, Iris juga gitu. Iris juga ga suka ditindas. Iris biasanya marah temennya disakitin. HAH? Apalah yang gue pikirin? Kenapa gue selalu ngebandingin semua cewek sama Iris? Jangan kali ini juga…
Haloo? Tapi dia mirip sama Iris! Dia mirip sama Iris…
WOI! Gue harus lupain pernah kenal cewek namanya Iris…
Tuh cewek kandidat yang cocok… Dia impressive banget. Bener-bener “waw” deh. Oke, gue coba kejar…
Masa sih gua ga dapet.

“Beginih Le… gue mau kasih tau lo satu pelajaran penting tentang beungeut (trans: wajah). Di dunia ini memang begitu, kalo lo mau tau.”
“Oh, gua ga mau tau yah,” Leo nyengir jahil sambil ngangkat dikit tas hitam berlogo REAL LEO di punggungnya.
Luthfi berpura-pura ngga denger. “Nah… memang banyak yang suka menipu orang dengan wajahnya Le. Misalnya elo. Menyimpan kegordatan (goreng adat=>kelakuan jelek) yang serius di balik wajah lo yang sok innocent depan cewek. Dan Spiza! Ga nyangka gue… cewek itu keliatannya lemah-lemah aja, ternyata yang keliatannya kayak cewek yang lem…”
Luthfi terdiam. Leo memandang Luthfi yang wajahnya mulai tidak karuan, kayak yang baru minum jamu sirsak goreng. “Fi, kayak lem apa Fi?”
“Lem..per soto…”
“Hah?”
Leo mengumpulkan segenap keberanian ke kepalanya, yang seharusnya membalik dan melihat ke belakang. Tapi tayangan misteri yang baru ditontonnya tadi malam membuatnya terdiam sebentar.
Tukang malak… ato…. Ato… hiii… Ehem-ehem yang salah keluar?
Leo membalik, dan seketika lagu rap sebagai background dimainkan.
Seorang cewek dengan wajah sangat manis sekali melebihi nangka, berdiri sambil tersenyum sok-cute seperti para cewek pada umumnya. Tapi musibahnya, ini cewek memang cute. Rambut cewek itu hitam bergelombang, pake pita hitam kecil di bagian depan rambutnya. Bodinya bikin gender apapun nahan napas minimal 4 detik.
Hahahah, mengesankan. Nanyain agensi model dimana Jeng?
“Ha… halow…” Luthfi nyisir rambutnya pake tangan sambil mandangin cewek itu. “nyari… saya?”
Cewek itu senyum lagi. Leo mulai risih liat Luthfi yang mulai agak ngos-ngosan. “Nggak… ini… saya mau bilang sama… Leo…” Dia mendekati Leo dan yang pasti bikin Luthfi geleng-geleng kecewa. “dompet kamu ketinggalan di kantin tadi…”
“Darimana lo tau itu dompet gua?” Leo mandangin cewek itu sambil senyum kecil. Sambil berpikir mungkinkah cewek itu mempunyai sensor sidik jari dan salah satu anggota FBI (Fersatuan Berembuan Imut) <= maksa banget
Cewek itu ketawa lebar, lebih manis lagi. Leo mau siap-siap ngasi pernapasan buatan sama Luthfi kalo senyum cewek itu lebih manis lagi dari ini. “Nah… kan ada fotonya disini… Hehehehe…”
Leo tersenyum sinis. Adalah kegemarannya agak mainin cewek yang keitung cantik, agak kenes, dan kayaknya sih diliat dari ciri-cirinya “kembang Anggrek” (liat definisi anggrek di atas). Leo selalu mandang sinis ke arah cewek-cewek golongan itu. Aneh, tapi begitulah Leo. Dan, oh ya, satu informasi lagi, gosip yang paling kuat berhembus di Wahutri adalah ceweknya yang pertama. Wah gila itu gosip, karena Leo punya cewek adalah kenyataan yang sangat mengezutkan, dan ternyata pernah: waktu SMP. Katanya ceweknya yang pertama itu cewek yang dengan tidak ikhlasnya dikatakan cewek-cewek sebagai kategori cantik, tanpa kata banget atau pisan , bernama Iris. Pada satu versi dikatakan Iris ketabrak becak, tapi di versi lain yang kebenarannya didukung bukti-bukti yang baik dan berpresentase 99,98%, Iris katanya tertabrak sebuah mobil dan meninggal di pelukan Leo. Sedih, dan gosip terhot tahun ini, menurut Wahutri Recok, sebuah majalah lokal buatan anak-anak Wahutri.
“Wah, pinter yah…” Leo senyum sinis. “nah, terus, saudari kembalikan yah dompet itu sama Leo?”
Cewek itu ngangguk kecil sambil terus senyum. “Kamu lucu yah.”
“Iyah, kayak dompetnya. Yang gambar Doraemon bukan?”
Cewek itu naikin alis. “Nah loh! Bukan! Yang gambar skateboard gitu trus pake gantungan kunci bola basket kaan?”
Leo ngegeleng watados (wajah tanpa dosa). “Kalau bukan Doraemon bukan punya gue…”
Hahahah, skakmat.
Leo agak paranoid. Banyak barangnya yang kadang ilang secara ga logis, terus ditemuin cewek-cewek. Mulai dari buku, penggaris, dompet, sampe kertas ulangannya… Jangan-jangan tuh cewek-cewek nyopetin barang-barang dia. Hii…
Cewek itu agak monyongin bibirnya dan nyodorin dompet skateboard itu. Leo ketawa kecil sambil geleng-geleng dan ngambil dompet itu. “Trims yah! Gue cabut dulu! Bye.”
Tadinya dia mau jalan, tapi Luthfi nyodok-nyodok tangannya keras. Dia berbisik pelan. “Gila, cantik banget! Kalo lo udah kenal ma dia, kenalin ma gue choy! Pliis! Ini Sylvia Le. Mawar terhot di skul kita!”
“Ooh…” ujar Leo sambil muter matanya dan jalan lagi. Diseretnya Luthfi yang keki abis liat reaksinya yang tidak wajar terjadi pada cowok.
“Tunggu bentar!” ujar cewek itu sambil mendekati Leo. Mukanya bersemu merah. Yang emang bikin tampang beningnya tambah cantik punya. “boleh kenalan ga? Itu juga kalo boleh…”
Ngajak kenalan? Kayak gua ke Iris aja. EH! LEOWSTRADA, berhenti mikirin Iris!! Bete lo…
Cewek itu menyodorkan tangannya. “Sylvia. Sylvia Aegina, kelas 2-2.”
Leo ngangguk kecil sambil nyodorin tangannya juga. Kasian kalo dijutekin. “Hai Sylvia, gue Dadang, kelas 2-5.”
Ternyata emang bener-bener Sylvia yang diomongin anak-anak kelas kalo istirahat. Standar.
“Leostrada kan?” Cewek itu senyum.
“Ya Leostradang,” ucap Leo asal. Leo nyengir kecil, dia teringat sesuatu dan mulai merasa ini ada manfaatnya juga. “Hey, gue boleh tanya? Kenal sama Spiza ga? Penampilannya agak aneh, terkenal kali ya?”
Cewek itu berpikir sebentar. “Spizaetus Caerina?”
Tiba-tiba aja muka Luthfi jadi kembung nahan ketawa. Leo menyipitkan matanya sambil nyengir. Bayangkan nama panggilan waktu kecilnya, Etus? Hahahaha… Nama orang apa nama latin bunga ato hewan tuh? Tega amat yang ngasi nama!
“Iya, yang itu,” ujar Leo akhirnya. “kelas apa Vi?”
Sylvia memamerkan senyum mautnya lagi. “Sekelas dia mah. Wah, kenapa Leostrada nyari dia?”
“Biasa, maling sendal, hahaha. Boong deng,” kata Leo sambil tertawa kecil. “udah dulu ya Vi, mau pergi dulu. Eh iya, ini di sebelah gue namanya Luthfi! Inget, Luthfi!”
Sylvia mengangguk-angguk sambil melambaikan tangannya. Leo berlalu menuju tempat parkir. Dia mengelap-ngelapkan tangannya ke tangan Luthfi. Luthfi memandangnya heran.
“Apa sih Le?”
“Ini, ini sidik jarinya, hahahaha…”
“Monyong!”

“Udah Syl? Dapet?”
Sylvia mengangguk lambat sambil mengangkat bahunya saat kedua temannya ngehampirin dia. “Sweet… bener-bener cakep. Mantan gua aja ga ada yang sampe secakep itu… Proyek baru niih…” Sylvia senyum kecil.
Temennya yang satu garuk-garuk kepala. “Tapi ati-ati Say. Dia itu diteropong cewek-cewek Wahutri. Deketin dia aja penuh sikut-sikutan.”
Sylvia terdiam sambil menekap mulutnya. “Tapi… denger… dia tadi nanyain Spiza sama gue… Aneh banget… Ih…”
Kedua temennya geleng-gelengin kepala dan muter mata. Ternyata ada, Handsome and The beast versi nyata.
“Apa sih yang perlu lo khawatirin tentang Spiza? Impossible yah. Lo dan dia kan jauhnya dari Sabang sampe Australia!”


Leo terdiam di kamarnya sambil melamun sendiri. Bukan kamar sebenernya. Apartemennya sendiri. Dia sejak lulus SMP langsung membongkar abis tabungannya yang keitung cukup banyak, mengingat ortunya yang kaya en dia cukup suka nabungin uang sejak SD. Dengan uang jajannya yang lumayan waw.
Dia adalah warga keluarga Miyazao pertama di rumah itu yang angkat kaki, tangan, kepala, dan badannya dari rumah itu. Kebetulan itu adalah beberapa bulan setelah rehabilitasi Leo atas kematian Iris. Dia ga tahan lagi sama orang tuanya yang tidak habis-habisnya bertengkar. Yang tidak habis-habisnya mencabik-cabik hati anak-anaknya. Dia minta izin hanya pada kakak laki-lakinya, Cashey, yang selama ini berfungsi sebagai pelindung Leo dan adiknya di rumah.
Cashey saat itu tersenyum dan menjitak kepala Leo. Saat itu masih jelas kata-kata Cashey yang diucapkannya sambil memandang Leo. “Nanti gue minta izinin sama oto. Tapi gua sih dukung elo, Le. Gua ngedukung semangat lo untuk nyoba mandiri. Buat sewa ato beli tuh apartemen, gua bantu lo. Toh sekarang gua udah kerja magang en punya penghasilan. Idup baik-baik Le, jangan kecewain gue, ortu, adik lo, ma… Iris…”
Sejak itulah Leo nyewa sebuah apartemen yang mahal enggak-murah enggak. Lumayan. Dan awalnya emang kerepotan. Gimana Leo setiap hari dijajah Amerika dengan menjadikan Fried Chicken buatan fast food restaurant sebagai menu sehari-hari. Bokek stadium satu, dia dijajah Warung Tegal. Ato kalo lagi bokek abis, kerupuk yang paling tersohor, kerupuk geboy, dia makan 2 biji ditambah air segelas. Dan ini menimbulkan ucapan sinis dari dirinya sendiri, “mobil aja bagus, Subaru Impreza, makanan mah kerupuk…”
Yah, mobil Leo adalah salah satu incaran banyak cewek dengan berbagai usia, mulai dari nenek-nenek di sebelah kamar apartemen Leo, cewek-cewek di sekolah, dan sebagainya. Itu mobil adalah hadiah khusus dari orangtuanya waktu dia lulus SMP. Beberapa minggu sebelum Leo mutusin cabut dari rumah.
Subaru Impreza Leo adalah yang tipe WRX. Subaru ini sengaja dipesen sama ortunya dari luar negeri, so pasti jadi extra-ordinary dan jadi salah satu barang mewah terakhir yang Leo punya. Makanya Leo sayang banget sama Impreza WRXnya. Tapi kalo dijuaal, orang sekabupaten bisa dapet beras 4 kg per-rumah.
Tapi setelah semua penderitaan itu, semuanya menjadi menyenangkan. Ternyata izin oto (otosan=>ayah) udah keluar. Oto kadang ngasi Leo uang jajan harian, walau biasanya uang jajan harian Leo ditanggung kakaknya. Lalu dia punya 4 teman yang paling dekat, walaupun ga ada yang normal. Dia merasakan sebuah lembaran hidup yang baru. Yang sangat segar. Dan cukup mudah akhirnya. Apalagi suplai makanan sekarang mengucur cukup deras dari tetangga-tetangganya yang baik hati dan tidak rewel.
Leo tersenyum kecil. Lalu entah kenapa, saat itu terjadi lagi bayangan-bayangan yang telah lama dia tutup. Bayangan-bayangan yang muncul gitu aja. Tiba-tiba membelesak keluar dari otaknya. Bayangan yang selama ini selalu ditutupinya sekuat hati.

“Dika, Dika, sini! Hari ini aku pake kalung dari Dika. Makasih ya!”
“Kalau Dika sedih, Iris ikut sedih. Wajah kamu ga pantes gitu, Ka. Liat Iris sebentar aja di sini. Ayo, senyum, ikuti aku… Hehehe…”
“Mereka bilang… Iris ga boleh deket-deket Dika. Mereka bilang Dika berandal, mereka bilang Iris nanti jadi nakal… Tapi Dika ga pernah berbuat gitu, Iris tau. Iris percaya Dika…”

Napas Leo tersengal-sengal. Dia memegangi kepalanya sambil mendesah pelan. Perasaannya seperti balon yang ingin meletus. Tidak terkatakan. Sedih, kaget, marah, gembira, bingung, semuanya bercampur pelan-pelan dan menyiksa Leo setiap waktu.
Apa ini? Kenapa gue masih inget dia? Nggak… Gue ga mau rehabilitasi gue 3 bulan itu sia-sia aja dan harus gue ulangi lagi sekarang… Lepasin gue, Leo… Lepasin gue…
Inget Spiza… Gue kan bakal chasing dia besok. Hey liat, betapa masih lemahnya gue sama cewek yang jelas-jelas baru satu kesamaannya sama Iris, tapi udah bikin hati gue dagdigdug dan kerasa nemuin sesuatu. Lihat, dia mirip Iris kan sifatnya? Tapi Iris ga suka marah-marah gitu. Dia baik…
Hah… gue mohon, hati. Berhenti.
Berhenti.
Kalo ngga gue susah kembali.
Biarlah cewek itu untuk sementara gantiin posisi Iris di hidup gua. Biarin aja apa ini pelarian atau cinta.

“Pokoknya besok gua harus kenalan sama dia,” Leo senyum kecil. “lah, paling juga gampang juga dapetin dia.”
DUG DUG DUG!
Leo tersadar dari lamunan panjang dan lebarnya. Seseorang di luar sana mengetuk pintu dengan penuh napsu kayak gitu. Leo menerka apa itu bayaran bulanannya. Tapi pas diinget lagi, dia udah bayar deh. Lagian, Leo menyangsikan kesehatan otak dan asal zaman yang menggedor pintu itu, mengingat tidak bisanya dia melihat sebuah tombol yang emang ga segede tahu, tapi cukup jelas ada di samping pintu Leo. Kalau ga liat, berarti dia emang berasal dari zaman Tyrannosaurus.
“Leo, ini Fairy…”
Jelaslah sudah. Leo menggeleng-gelengkan kepalanya. Fairy adalah tetangga apartemennya. Kamarnya pas di sebelah kamar Leo. Anaknya manis, kata David sih cute abis. Menurut Leo, Fairy itu agak bawel dan lemot, tapi pas Leo sakit, dia berbaik hati ngurusin. Fairy juga anak Wahutri. Makanya gosip yang berhembus kadang kurang enak, soalnya kebanyakan bawangnya, trus kurang garem. Katanya Fairy itu pernah sekamar sama Leo, Fairy itu pacarnya Leo, segala deh… Dan hanya satu kata jawaban Leo waktu itu: “najis!”
Leo dengan enggan membuka pintu itu. Fairy pake baju pink mencrang. Serab deh pokoknya. Dia nyengir.
“Leo, anu… boleh minjem PR Matematika lo gak? Gue butek banget, pusiing! Gurunya kan sama Pak Antau ya?”
Leo tersenyum kecil. “Yah, gitu aja ga bisa. Mu jadi apa lo entar? Itulah kenapa Indonesia kagak maju-maju, karena baru sekaranglah mereka memiliki LEO, hehehe…”
“HWEEK! Yee, suka-suka gue jadi apa! Apa urusan lo! Marilah kemarikan bukumu, Leostradaa…”
Leo berpikir sebentar… Duabentar… “Oke… Tapi lo harus kasi tau gue segala sesuatu yang lo tau tentang cewek sekolah kita yang namana Spiza.”
Muka Fairy langsung berubah. Mukanya mirip sama orang yang baru ngunyah garam balokan. “Spiza… Spizaetus Caerina?”
Leo ngangguk.
“Dia anak kelas 2-2. Anaknya aneh gitu. Kacamatanya tebel bangeet! Tau buat apa? Mayan pinter, kelas 1nya dia ranking 2 di kelasnya. Mmh… apalagi ya? Sama cowok dia tertutup banget. Temen ceweknya ga tlalu banyak, tapi ada sih… Kebanyakan orang males deket ma dia ya karena anehnya itu.” Fairy ngomong semanget banget. Untung dia cukup punya tatakrama untuk tidak mengadakan hujan lokal. “Yang pasti, Introvertnya itu!! Bahkan paling jahat, dituduh lesbi soalnya sama si Linda terus.” Fairy terdiam lagi, lalu teringat sesuatu. “Tapi ada yang bilang ngerasa pernah liat Spiza sebelumnya, tapi ga tau dimana. Soalnya Spiza itu dari SMP pinggiran sih… Yang cuman dia sendiri yang masuk Wahutri…”
Aduh? Kalo gitu, kalo gue ma temen-temen jomblo terus disebut homo kali yak? Ngga deh, makasih. Stock cewek masi banyak…
“Uugh, makin penasaran gue!” kata Leo sambil tertawa kecil. “thanks, bentar, gua ambil bukunya dulu yah.”
Fairy mengangguk lemas. Hatinya berteriak, “Waw~!” Lalu berkata, “baru kali ini ada cowok nanyain cewek 2-2 selain Sylvia ke gue. Spiza? Leo~Spiza?” dan berbisik, “Ga pantes ya?”

0 Comments:

Post a Comment

<< Home